Pendidikan pada abad XXI harus dapat menjamin agar peserta didik memiliki keterampilan belajar dan  berinovasi,  keterampilan  menggunakan  dan  memanfaatkan  teknologi  dan  media  informasi, dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup itulah  yang  kemudian  dikenal  dengan  konsep  4  C  yang meliputi  kecakapan  berpikir  kritis  dan pemecahan  masalah  (critical  thinking  and  problem  solving  skill),  kecakapan  berkomunikasi (communication  skills),  kecakapan  kreativitas  dan  inovasi  (creativity  and  innovation),  dan kecakapan kolaborasi (collaboration).

Salah satu prasyarat untuk mewujudkan kecakapan hidup abad XXI tersebut adalah kemampuan literasi  berbasis  teks  multimodal  yang  tidak  lepas  dari  penguatan  pendidikan  karakter  sebagai upaya  mewujudkan  profil  Pelajar  Pancasila  yaitu  beriman,  bertakwa  kepada  Tuhan  YME  dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, memiliki sikap bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri. Implementasi penumbuhan budaya literasi di sekolah berupa Program Gerakan Literasi Sekolah  (GLS)  yang  telah  dicanangkan  sejak  tahun  2015  di  lingkungan  SMA  terdiri  dari langkah-langkah  persiapan,  pelaksanaan,  pemantauan  dan  evaluasi,  serta  tindak  lanjut  yang melibatkan partisipasi seluruh warga sekolah.